Sejak Dini Belajar Kesehatan Reproduksi

JUBI — Tentu, perangkat media KIE yang digunakan harus teradaptasi terhadap konteks sosial budaya masyarakat agar informasi yang diberikan benar-benar berguna bagi masyarakat.
Mengenai informasi HIV/AIDS serta lebih luasnya Kesehatan Seksual dan Reproduksi, Masyarakat Puncak Jaya tempat MdM bekerja belum pernah benar-benar didekati dengan media KIE yang mengandung representasi dan gambar yang relevan dengan konteks sosial-budaya mereka.
Pada Tahun 2009, Medicine du Monde (MdM) mengadakan suatu pilot-project media KIE, mengembangkan bahan-bahan KIE baru tentang Kesehatan Seksual dan Reproduksi (Kespro) yang relevan terhadap konteks sosial budaya Masyarakat Pegunungan Papua.
Untuk mengimplementasikan media tersebut, telah dirancang juga sebuah strategi. Masyarakat di kampung yang kebanyakan buta huruf dan cenderung kurang percaya pada petugas kesehatan.
Dalam konteks ini, penggunaan pendekatan Pendidik Sebaya dapat menjawab dua masalah sekaligus: memberikan informasi yang komprehensif, sederhana dan mudah dimengerti kepada masyarkat, serta membangun jembatan antara masyarakat dan petugas kesehatan dengan cara mengarahkan masyarakat atau bahkan mengantar mereka ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Peran Pendidik Sebaya sederhana saja, yakni memberikan informasi dasar dan mengarahkan masyarakat. Para pendidik sebaya ini harus mempunyai kepercayaan diri yang tinggi karena informasi yang diberikan seringkali merupakan informasi yang sensitif bagi masyarakat.
MdM melatih Tim Pendidik Sebaya pertama yang terdiri atas 10 orang dan 5 orang supervisor pada dua minggu terakhir Januari 2010.
Sebagian besar peserta pelatihan adalah siswa/i yang telah terlibat dalam kegiatan pencegahan HIV/AIDS dengan MdM. Dalam event Hari AIDS sedunia dan penyuluhan di sekolah-sekolah yang dipilih bersama-sama tokoh gereja di beberapa kampung di Mulia. Sedangkan para supervisor adalah para kader dan siswa/i senior yang lebih berpengalaman bekerja dengan MdM.
Kegiatan ini berlangsung selama empat jam setiap hari. Mereka mengikuti pelatihan Kesehatan Seksual dan Reproduksi secara interaktif, berlatih menggunakan permainan dan pemberian informasi, juga berdebat tentang harapan-harapan mereka dalam mengikuti kegiatan ini.
Dari kegiatan itu, MdM menilai peserta sangat antusias dan berkomitmen untuk membawa nilai tambah bagi masyarakat khususnya dalam memberikan informasi tentang isu-isu kesehatan yang mendasar seperti Kespro, KB, HIV/AIDS, IMS, dan kebersihan.
Pendidikan sebaya ini secara bertahap memberikan penyuluhan di kampung masing-masing, seperti Kampung Pagaleme, Muliambut, Wuyukwi, Wadenggobak dan Kampung Karubate. Kampung tersebut berada dalam Distrik Mulia.
Dalam pendidikan sebaya ini, MdM melibatkan sebanyak mungkin peserta perempuan karena beberapa pertimbangan. Selain anak perempuan mempunyai beban kerja yang lebih banyak, juga karena biasanya orang tua jarang mengijinkan anak perempuan mereka mengikuti kegiatan di luar sekolah. Kegitan selanjutnya, MdM berencana untuk lebih banyak melibatkan remaja perempuan agar orang tua dapat memahami peranan anak perempuan di hadapan publik, sekaligus dukungan moral terhadap kaum perempuan di daerah itu.
Penyuluhan pendidik sebaya resminya diadakan tiap Hari Minggu setelah waktu ibadah di gereja masing-masing. Pola pendidik sebaya juga dengan mengadakan penyuluhan di dalam lingkungan remajanya. Kegiatan-kegiatan penyuluhan ini dikelola bersama-sama dengan para supervisor serta dukungan dari pihak gereja.
“Peserta pendidik sebaya nyaman menggunakan perangkat kerja mereka, misalnya lembar-balik dan poster dengan topik kesehatan seksual dan reproduksi. Masyarakat yang terlibat mendengar, berkomentar, bertanya dan tampak serius mengikuti kegiatan,” kata Fritz Haryadi, Communication Officer MdM Papua Project. “Kemudian akan diadakan semiloka untuk berbagi pengalaman dan mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan para pendidik sebaya. Program ini adalah pilot-project, sehingga harus tetap hidup, terus dimonitor dan terus diadaptasi.”
Selain itu, MdM akan merekrut dan melatih tim pendidik sebaya baru untuk periode 2010-2010. “Kali ini kami berusaha merekrut calon-calon dari berbagai latar belakang seperti menarik kader baru, relawan gereja dan lainnya,” ujarnya.
Berbagi pengalaman dan menjalin jejaring adalah strategi yang dipresentasikan pada minggu pertama Februari dalam sebuah pertemuan di Jayapura dengan pihak-pihak terkait (KPAP dan KPAD Mulia, Dinkes Prov, BKKBN) serta mitra-mitra dari Jaringan Koalisi Stop AIDS Now! yang bekerja di berbagai daerah di Papua (Primari di Nabire, Tangan Peduli di Wamena dan Yasanto di Merauke).
Berbagai organisasi ini mendapatkan kesempatan untuk saling berbagi pikiran mengenai kebutuhan akan media KIE tentang kesehatan seksual dan reproduksi termasuk HIV/AIDS.
Dalam pertemuan ini ditegaskan bahwa terlepas dari pilot project di Puncak Jaya, LSM lain di Daerah Pegunungan Papua telah berupaya mengambil pendekatan sosial budaya terhadap kebutuhan masyarakat penerima bantuan mereka dalam hal informasi, dengan cara merancang media KIE sendiri.
Tetapi, juga harus digarisbawahi pula bahwa kampanye di tingkat nasional maupun provinsi selama ini masih ditujukan untuk daerah-daerah pesisir dengan kurangnya pembuatan media yang khusus membidik konteks daerah pegunungan.
Perwakilan dari KPA provinsi dan BKKBN memang sangat tertarik terhadap berbagai pola pendekatan ini dan diusulkan untuk menjalin koordinasi yang lebih kuat dengan Pokja Media di KPA Provinsi Papua yang bertanggung jawab dalam penyusunan media KIE di tingkat provinsi.
“Tentunya sangat menarik jika forum-forum pertemuan LSM-LSM HIV/AIDS ‘Pegunungan’ ini diadakan secara berkelanjutan,” katanya.
Jika benar bahwa sulitnya koordinasi ini dikarenakan faktor logistik, maka momentum dari semua pihak sudah ada.
Misalnya LSM, Pemkab, KPA, Dinkes dan tentunya masyarakat yang menjadi sasaran sangat berkeinginan untuk saling berkoordinasi dalam rangka mempromosikan kebutuhan akan suatu strategi KIE, sekaligus merancang media KIE yang dimaksud, khusus untuk masyarakat yang hidup di daerah pegunungan. Kami berharap, melalaui kegiatan ini, setiap remaja di Puncak Jaya bisa mengetahui tentang kesehatan reporoduksi, termasuk jenis penyakit dan bahaya yang dtimbulkan.(sumber http://tabloidjubi.com/index.php/index-artikel/stop-aids-now/8107-sejak-dini-belajar-kesehatan-reproduksi)













ini tuh beneran mayat y?hmm….seolah2 masih hidup…hehehe…